Menuliskan Bacaan

Agar tak menjelma lupa, maka kutuliskan apa yang aku baca.. I want to be a smart reader.

Bagi saya, buku adalah Cinta :)

Ya, saya mencintai buku. Bagi yang ingin menarik perhatian saya, bicaralah soal buku. Maka dengan mudah saya akan menghadapkan wajah dengan sorot mata antusias dan rela duduk berlama-lama untuk membicarakannya dengan siapa pun. Bagi saya, orang yang membaca buku adalah keren.

Berawal dari kecintaan saya terhadap buku, maka blog buku ini tercipta. Saya mulai ngeblog dari zaman SMA, tapi itu masih blog rendom. Sampai sekarang juga blog utama saya di linaastuti.com masih rendom isinya. Nah, setelah wara-wiri blogwalking, saya baru tahu kalau ada blogger yang mengkhususkan niece blognya tentang buku. Pokoknya membahas semua tentang buku. Only books. Hi, mupenglah saya. Itulah awal mula tercetus blog buku milik saya: menuliskanbacaan.blogspot.com.

Salah satu faktor yang mendorong saya untuk membuat blog buku adalah adanya BBI. Yaitu  Blog Buku Indonesia (BBI) yang merupakan komunitas blogger buku.  Saya mupeng untuk gabung di komunitas keren ini. Saya sering kepoin blog-blog buku anggotanya, dan memang keren.

Denger-denger untuk jadi anggota BBI usia blognya minimal 6 bulan dan update blog minimal 4 bulan. Saya sedang berusaha untuk memenuhi persyaratan itu.

Tahun ini, BBI genap berusia 5 tahun. Semoga di tahun ini BBI bisa mendapatkan member baru dan kece seperti saya XD *plak*
gambar dari sini


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Judul buku: My Avilla
Penulis: Ifa Avianty
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Februari 2012
Halaman: 184 halaman
ISBN: 978 602 8277 49 5
My Avilla


Baiklah, ini merupakan novel Mba Ifa kesekian yang saya baca. Kesekian, kok kesannya gak jelas gitu yak? Hihihi.. Tapi yang pasti bagi saya, kalau sudah nemu nama Ifa Avianty di cover buku, sudah tidak ada pertimbangan (selain lagi bokek yak) untuk gak beli bukunya. Ya sukur-sukur dapat pinjaman gitu sih. Hehehe XD
Ifa Afianty masuk di daftar penulis favorite saya karena bahasanya ringan dan kekinian, tapi tetap menyelipkan nilai islami. Cerita yang sederhana disulap jadi istimewa dan bikin cengar-cengir bacanya.

Nah, untuk bukunya yang satu ini, My Avilla, menurut saya agak sedikit 'berat' dibanding novel-novelnya yang lain. Untung alur ceritanya asik dan halamannya gak terlalu tebal, jadi dalam tiga hari buku ini habis saya baca di sela aktifitas yang lain.
Novel My Avilla juga menjawab mitos, bahwa "Princes Charming" selaaalu menjadi kata kunci yang muncul di setiap novelnya. Karena di novel ini kata kunci itu tidak keluar alias tidak ada tokoh laki-laki yang terkesan mendekati sempurna (meski kata 'charming' tetap ada. Hihi..sampe merhatiin segitunya yak). *tepuk tangan yang gemuruh buat mpok Ipeh keceh* *sambil nyengir dan sun dari jauh*.
***


Bagiku, hidup adalah kompetisi. Semuanya harus dilombakan. Siapa unggul, dia dapat kesempatan. (Trudy)

Margriet dan Trudy adalah kakak-beradik dari keluarga Hermawan Hasan. Mereka berdua merupakan kebanggaan keluarga dengan segala keunggulan dalam prestasinya masing-masing. Margriet maupun Trudy, saling mengagumi keunggulan saudaranya.

Margriet Avilla Hasan, adalah sosok yang pintar di sekolah, pintar bahasa asingnya, pintar menyanyi, pintar memasak dan membuat kue, dan pintar segala macam kesenian dan keterampilan. Maka tak heran, ia menjelma The Crown Princess bagi keluarganya. Trutama karena Margriet sosok yang kalem dan cenderung 'lempeng'. She is snow princes.

Sedangkan Trudy harus belajar semalam suntuk untuk bisa secemerlang kakaknya. Belum lagi dia gampang sakit. Maka dari itu sewaktu kecil, Trudy merasa terlihat seperti ugly ducling bila berjalan di samping kakaknya itu. Meski begitu, nyatanya dia lebih cantik dan populer dibanding Margriet, namun Trudy malah sering menganggap kakaknya sebagai saingan dalam banyak hal. Terutama dalam merebut hati Fajar. Teman sekelas Trudy yang selang usia empat tahun dengan kakaknya tersebut.

Fajar Lintang Bagasakara Sudiyanto, adalah anak dari kolega bisnis keluarga Hermawan Hasan, sosok yang menganggap dirinya manusia yang aneh dan penyendiri. Dia lahir dari pasangan beda agama. Ayahnya muslim sedangkan ibunya seorang Katolik. Karena latar belakang agama orang tuanya tersebut, Fajar menjadi sosok yang 'tidak biasa' dan cenderung galau dalam beragama. Dia melakukan aktifitas layaknya muslim, tapi pada saat perayaan Kristiani dan mendengar lagu-lagu Natal yang diputar ibu dan kakak perempuannya yang Katolik, hatinya terenyuh. Bahkan dia sempat berpikir untuk mengabdikan dirinya untuk Tuhan dengan konsep selibat, cara yang dilakukan penganut Kristen untuk mendekatkan diri pada Tuhannya dengan memutuskan tidak menikah dan mengabdi di gereja.

Suatu hari Fajar menyampaikan perasaan sukanya pada Margriet, yang pada awalnya Margriet menganggap kalau Fajar jatuh hati pada adiknya, Trudy. Pada saat itu Margriet kuliah semester empat, sedangkan Fajar baru duduk di bangku SMA. Aku lebih baik pingsan saja daripada harus dilamar anak kelas 1 SMA yang 'gila' ini. Pikir Margriet. Terlebih adiknya, Trudy, yang jelas-jelas telah jatuh hati pada teman sekelasnya itu. Pada saat yang hapir bersamaan, Fajar 'menolak' Trudy yang mempertanyakan hubungan di antara mereka berdua.

Kemudian muncul sosok Philip Fraser, dosen baru di UINI, kampus tempat Margriet mengajar. Seorang bule Amerika lulusan doktor-nya Melbourne Australia. Margriet menganggap Phil sebagai 'bugil' alias bule gila. Ia tak jarang menggoda Margriet saat di kantin atau sekedar mengirimkan email berupa adaptasi dari syair lagu sixties. Jelas, diam-diam Phil mencari tahu selera musik Margriet. Baginya ini sangat mengerikan, ditaksir oleh bule Yahudi yang terkenal playboy dan smooker jelas-jelas lebih mengerikan dari cintanya Fajar.

Tak lama kemudian Phil masuk Islam dengan dibimbing oleh Pak Khairuddin, dosen Agama Islam di kampus mereka. Margriet tidak tahu harus mengucap alhamdulillah, inna lillahi, atau astaghfirulla, sebab ia tak tahu jelas niatnya yang sebenarnya. Di situlah gejolak perasaannya muncul. Apakah ia harus menerima lamaran Phil karena ia telah menjadi Muslim dan terlihat lebih 'baik'? Sedangkan ia tak mau menerima pendamping dalam posisi keterpaksaan dan tak lain hanya sekedar sebuah tugas.

Ifa Avianty yang merupakan spesialis penulis drama cinta ini menghadirkan tema yang berbeda pada novel My Avilla. Sebuah novel akan pencarian Tuhan dari dua tokohnya sekaligus, yaitu Fajar dan Philip. Barangkali karena tema tersebutlah yang membuat novelnya kali ini terasa lebih 'berat' bila dibanding dengan novel-novelnya yang lain. Meski hingga ending cerita, pencarian Fajar akan Tuhannya tak kunjung mencapai klimaks.

Penulis banyak menyinggung beberapa agama berbeda dalam novel ini, namun penulis sungguh piawai memilih kalimat demi kalimat tanpa ada satupun yang menyinggung, merendahkan, atau mengagunggkan salah satu agama.

Satu lagi buku yang menarik dan pantas untuk dibaca.
***

Lina Astuti

Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Cerita dalam manga ini diawali dari sebuah tempat bernama Kuil Dairin yang merupakan tempat berkumpulnya para biksu. Pada suatu hari ketika disebar undangan untuk melaksanakan laporan tahunan, ada satu kuil yang tidak ada kabar beritanya, yaitu kuil Korin di Ka Nan, sebuah kuil di perbatasan selatan Cina. Karena merasa khawatir atas putusnya komunikasi dengan kuil Korin, akhirnya tetua mengutus seorang guru di kuil Dairin, Chinmi, untuk memastikan keadaan di kuil Ka Nan tersebut.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Judul Buku: The Traveler's Wife
Penulis: Tias Tatanka
Penerbit: Salsabila
Tahun Terbit: April 2015
Tebal: 242 Halaman 
cover The Travelers Wife

TAK bisa dimungkiri bahwa traveling adalah suatu hal yang menyenangkan. Banyak orang yang sengaja mengagendakan waktunya jauh-jauh hari untuk melakukan kegiatan yang satu ini.  Tak jarang pula mereka yang hendak melakukan traveling, harus rela menuntaskan pekerjaannya lebih dahulu agar saat bepergian jauh tak ada tanggung jawab yang ditinggalkan. Tapi bagaimana jika seorang ibu yang akan melakukan traveling, padahal seperti yang kita tahu bahwa pekerjaan seorang ibu tak pernah ada habisnya? Itulah yang dialami oleh Tias Tatanka yang merupakan istri dari penulis buku Balada si Roy, Gol A Gong. Dalam bukunya yang berjudul The Traveler’s Wife, Tias menceritakan bagaimana beratnya meninggalkan keempat orang anaknya untuk menemani sang suami traveling. Kepergian Tias dan suami bukan hanya dalam rangka jalan-jalan, namun juga untuk menuntaskan tugas sang suami dalam rangka tour Asia untuk memberikan pelatihan menulis. Tak tanggung-tanggung, tujuh negara selama empat puluh delapan hari ia akan meninggalkan anak-anaknya tersebut.

”Bayangan anak-anak dan pekerjaan yang menumpuk membuatku gentar. Ya, sejujurnya kakiku pun sebenarnya ingin melangkah. Kami pernah bepergian sebelumnya, jadi pernah kurasakan nikmatnya. Hanya saja perjalanan itu tidak terlalu jauh dan paling lama 12 hari. Hingga, jika terjadi apa-apa masih bisa disusul, karena masih di pulau Jawa.” (hal: 7)

Persiapan ekstra kerap dilakukan Tias menjelang keberangkatan. Salah satunya dengan memastikan anak-anaknya berada di tangan yang tepat selama ia pergi. Pilihan jatuh kepada ibu dan ibu mertuanya yang akan menjaga anak-anaknya secara bergantian. Namun tidak selesai sampai di situ, perasaan rindu pada anak-anak kerap menghinggapi hati Tias di sela perjalanannya tersebut.

Mimpi Sepasang Sepatu Bot

Hal yang tak pernah terlewat dari sebuah perjalanan adalah sepatu atau alas kaki. Setidaknya sepasang benda pelindung kaki itu yang akan setia menemani. Sepatu identik dengan perjalanan, tak heran jika banyak buku traveling yang menjadikan sepatu sebagai cover depan, termasuk buku ini.

Di halaman awal Tias menceritakan persiapannya dalam memilih sepatu untuk perjalanan 48 harinya bersama suami. Memilih sepatu tentu bukan hanya dari tampilan luarnya, tapi dari sisi kenyamanan pada saat memakainya. Tias memilih sepatu yang nyaman dan empuk, agar tak merepotkan ketika dibawa jalan. Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli sepatu bot yang sama, membuat mereka terlihat kompak.

Dari Singapura Sampai Tanah Suci Makkah

Singapura adalah negara pertama yang dituju. Di negara tersebut suami Tias akan mengisi pelatihan menulis di Sekolah Indonesia Singapura. Selain mengisi pelatihan, mereka juga menyempatkan jalan-jalan untuk  menikmati Singapura di sore hari karena keesokannya sudah harus menuju Malaysia, menunaikan agenda pelatihan lainnya.

Perjalanan tak selamanya berjalan mulus. Menuju Thailand, Tias harus menghadapi situasi yang tak mengenakkan, suaminya ambruk.

“Suamiku enggak kuat menahan sakit di perutnya. Ia menduga ini disebabkan “salah makan” saat di stasiun Kuala Lumpur.  Badannya mulai demam saat dzuhur tiba.” Hal: 38.

Di situ Tias berhadapan dengan situasi yang tak pernah diduga sebelumnya. Terlebih mereka berada di negara yang asing dan jauh dari rumah, membuat suasana terasa genting. Hal tersebut yang mendorong Tias untuk bisa mengatasi masalahnya dengan tenang. Rencana awal akhirnya berubah. Mereka memutuskan untuk mengganti kendaraan menuju Bangkok. Hal tersebut didasarkan  karena kondisi suaminya yang sakit, tak memungkinkan untuk bepergian menggunakan kereta. Dengan bersusah payah seorang diri, ia membatalkan tiket kereta api dan memesan tiket pesawat Thai airways.

Negara selanjutnya adalah India. Negara yang dengan segala hiruk-pikuknya membuat penulis jatuh cinta pada negeri yang terkenal dengan bangunan bersejarahnya, Tazmahal. Saking jatuh cintanya, Tias menuliskan lebih dari sepertiga judul perjalanannya di India dari 30 judul yang ada di dalam buku ini.

Melepas kota Mumbai, India, perjalanan selanjutnya adalah negara-negara di  Uni Emirat Arab. Tiga negara terakhir adalah Dubai, Qatar, dan Arab Saudi. Namun sebelum menuju tanah suci, penulis sempat pulang ke Indonesia. Awalnya mereka berniat ke Makkah untuk sekalian umroh dengan menggunakan jalur darat langsung dari Qatar. Namun karena satu dan banyak hal yang tidak memungkinkan, akhirnya mereka harus pulang terlebih dahulu dan melanjutkan perjalanan umrah dari tanah air. Mungkin ini salah satu jalan-Nya agar ia bisa melepas rindu dengan anak-anaknya.

“Di halaman depan masjid aku tertegun sejenak. Telah sampai kami di depan masjidmu, ya Rasulullah. Rindu ini mengembang seperti payung di pelataran depan, menaungi jamaah dari terik matahari. Beberapa detik berikutnya suamiku menggamit tanganku, mengajak memasuki gerbang masjid.” Hal: 223.

Begitulah, tanah suci Makkah menjadi penutup yang indah dari catatan perjalanan seorang istri dalam buku The Wife’s Travelers ini. Gaya tutur penulis yang luwes, membuat pembaca ikut merasakan gejolak emosi, luapan rindu, kepanikan, dan bahagia yang dirasakannya selama perjalanan menjelajahi 7 negara.

Banyak perjalanan dengan tujuan yang sama, yang membedakan adalah dengan siapa kita menempuh perjalanan tersebut. Dan perjalanan panjang bersama suami, tentu akan menambah kedekatan serta rasa cinta antara pasangan tersebut. 

Buku ini bisa menjadi inspirasi bagi pasangan suami-istri yang ingin traveling berdua sekaligus referensi bagi para pelancong, terutama bagi para istri sekaligus ibu yang berniat untuk bepergian jauh tanpa mengikutsertakan anak-anak.

*Kutunaikan janjiku dan permintaanmu
Lina Astuti

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ketika membereskan kamar Ciko, mama tidak sengaja menemukan kertas ulangan pelajaran Sejarah milik anaknya itu.

REMEDIAL!

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Membaca kumpulan cerpen ini seperti sedang menonton drama Korea, romantis.
Jika menonton film kita bisa menangkap cerita dari audio dan visual yang tersaji di layar monitor, beda halnya ketika kita membaca sebuah buku. Perlu ketekunan seorang pengarang untuk bisa menuliskan suatu ide cerita yang bisa dinikmati oleh pembacanya.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Sebagai orang yang hobi beli buku, minjemin, nyampulin, tapi bacanya kadang susah, hehe.. saya tertarik untuk mengikuti challange ini. This is a simple challage, tapi harus konsisten karena kalau enggak bisa aja tergoda buat dibeliin permen. hohoho..

Berawal dari blognya mba Alvina.
1. Kumpulkan semua uang receh yang kamu punya sejak bulan Januari-Desember 2016
2. Setelah akhir tahun, hitung jumlah uang tersebut dan belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang lain
3. Buat postingan tentang challenge ini di blog kamu, share di media sosial yang kamu punya
4. Pasang banner Receh Untuk Buku 2016
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Dia baru saja menyelinap keluar. Terbangun oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh penghuni kerajaan sang dewi telah tertidur. Pandangannya lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam. Sangat tajam. Menatap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tidur di dalam tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkah-langkah pasti. Dermaga itu tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya. Memanggil-manggilnya dengan suara tak biasa.
Rengganis, pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?
Hingga pagi datang, anak muda itu tak pernah kembali lagi ke tenda... (Hal: 6)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Masih inget terakhir baca bukunya Mbak Ifa Avianty yaitu dwilogi Facebook on Love yang berhasil mengaduk-aduk  emosi saya pada saat membacanya. Chapter pertama maupun yang kedua dari buku tersebut sama-sama menghadirkan sekelumit drama rumah tangga dengan segala bumbu-bumbunya. Ditambah dengan gaya penuturan mba Ifa yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada tulisannya yang pertama (pertama kali baca tulisan mba Ifa di kumcernya yang berjudul Musim Semi Enggak Lewat Depok).
 
Nah, kali ini ceritanya saya mau me-review novel Mba Ifa yang judulnya Bukan Cinderella. Novel setebal 215 halaman ini terbitan Noura Books, kalau gak salah dulu namanya penerbit Mizan Media Utama kemudian berganti nama menjadi Noura Books.

Buku ini  memberikan catatan rekor bagi pembaca yang agak malas seperti saya, bisa menghatamkan novel ini dalam jangka waktu 3 jam saja.. saking serunya atau emang gak ada kerjaan lain, eh XD (tapi asli novelnya seru :D).
**
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jika kita mau merenung sejenak, bahwa segala sesuatu, Allah ciptakan secara teratur, yang semuanya mengarah kepada keseimbangan. Coba lihat posisi tubuh manusia sendiri. Ada sepasang tangan yang masing-masing ada di kanan dan di kiri, juga sepasang kaki, sepasang mata, sepasang telinga. Dan jika jumlah organ itu hanya satu, seperti hidung, mulut, kepala, selalu diposisikan di tengah, dengan pertimbangan yang tepat antara kanan dan kiri. (halaman 40)

Makhluk-makhluk Allah di muka bumi ini pun selalu memiliki dua hal yang saling melengkapi. Pada gunung merapi misalnya, di satu sisi gunung adalah wujud yang kokoh dengan kepundan yang siap menyemburkan magma yang sangat panas. Akan tetapi, gunung pun selalu menampakkan panorama yang indah dengan bentuk-bentuk artistik serta tanaman-tanaman yang menawan. (halaman 41)

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts

About me

Email: linaastuti27@gmail.com
Facebook: LiNa Astuti
Twitter: @naku_ast27
Instagram: @nakuna_

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  Maret (1)
  • ▼  2016 (10)
    • ▼  April (1)
      • Blog Buku Lina dan Ultah BBI ke-5
    • ►  Maret (2)
      • My Avilla, sebuah novel pencarian Tuhan (review)
      • Kungfu Boy (review)
    • ►  Februari (7)
      • The Traveler's Wife
      • Gundam Attack!
      • Cerita Dalam Filosofi Hujan
      • Receh untuk Buku 2016
      • Rengganis Altitude 3088, Novel Tentang Pendakian
      • Bukan Cinderella: Kadang Cinta Tak Bisa Memilih
      • Sayap-Sayap Sakinah: Sepasang Sayap Dalam Pernikahan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates